Pastor Dr. Valentinus Saeng, CP: Tolak Bala, Iman dan Ilmu

Orang Dayak, ketika ada situasi hidup yang darurat karena bencana alam atau wabah penyakit, melakukan ritual Tolak Bala. Istilah tolak bala mengandung arti MENCEGAH bila belum terjadi, MENGOBATI jika sudah terpapar dan MOHON PERLINDUNGAN (menguatkan roh/semengat) dalam situasi kritis itu.
Dari kebiasaan itu, muncul pertanyaan: a) apakah tidak bertentangan dengan iman, karena kita sudah beragama; b) apakah secara ilmiah dapat dijelaskan, efektif dan mujarab (ilmu).

Dari sudut iman, jika ritual tersebut dipahami sebagai permohonan kepada antu-jelu, roh nenek moyang dst…alias BUKAN kepada Tuhan, maka tindakan demikian BAGI ORANG YANG SUDAH BERAGAMA adalah bagian dari synkretisme alias tidak dapat dibenarkan.
TETAPI jika dilakukan oleh mereka yang beragama TRADISIONAL, hal itu adalah wajar.
Maka penting mencermati RITUALNYA dan UJARAN/DOA yang didaraskan.

Lalu, apakah kalau begitu ritual tolak bala tidak boleh dilakukan? Jawabannya BOLEH, JIKA sebagai UNGKAPAN BUDAYA, tetapi ISINYA, MANTRANYA ADALAH DOA KEPADA TUHAN sebagai PENGUASA ALAM SEMESTA, BUKAN KEPADA HANTU-JELU(BINATANG) DAN ROH LELUHUR. Dengan kata lain, MASUK DARI PINTU BUDAYA(ritus dan bahan2nya adalah SARANA BELAKA) KELUAR DENGAN ISI AGAMA (ISI, ARTI,ESENSI atau RUMUSAN DOA dan SIAPA YANG DIMINTA BANTUAN). Itulah MAKNA INKULTURASI.

Dari sudut ILMU apakah MASUK AKAL, MUJARAB DAN EFEKTIF? Jawabannya: YA!
Yang PENTING dalam TOLAK BALA BUKANLAH RITUAL, tetapi LARANGAN-PANTANGANNYA.
Biasanya HAL TERLARANG DILAKUKAN adalah KELUAR MASUK KAMPUNG bagi WARGA KAMPUNG dan PENDATANG, KELUAR RUMAH bagi WARGA kampung kecuali PERGI MANDI KE SUNGAI dan AMBIL AIR MINUM. Jadi, TIDAK ADA SAMA SEKALI AKTIVITAS DI LUAR RUMAH.

Lalu, bagaimana mereka mencari makan? Sebelum diadakan ritual tolak bala, pemimpin kampung dan adat sudah MEMBERIKAN PENGUMUMAN agar WARGA KAMPUNG MENYIAPKAN SEMUA KEPERLUAN HIDUP SELAMA WAKTU YANG DITENTUKAN (3 atau 7 hari = simbol kesempurnaan). Jadi, semua warga harus siap dan taat. Yang melanggar pasti dihukum.

Jadi, kalau dicermati SEMUA LARANGAN/PANTANGAN, maka ritual tolak bala adalah LOCK DOWN, KARANTINA LOKAL versi ORANG DAYAK. Jadi, TOLAK BALA adalah RASIONAL, ILMIAH, EFEKTIF & MUJARAB, karena MEMBATASI KONTAK dan RUANG GERAK.

Apa artinya? Kalau ritual tolak bala dilakukan, jangan hanya sekedar ikut-ikutan dan mementingkan RITUAL, tetapi HARUS ADA AKSI NYATA = PATUH DENGAN PANTANG dan DISERTAI SANKSI ADAT bagi yang melanggar. Dengan kata lain, LAKUKANLAH RITUAL TOLAK BALA SESUAI DENGAN TUJUAN ASLINYA SECARA MURNI DAN KONSEKWEN VERSI INKULTURASI, NISCAYA BERHASIL DAN BERDAYAGUNA SERTA BERKENAN KEPADA TUHAN.

BERIMAN DALAM BUDAYA DAN BERBUDAYA DALAM IMAN SECARA KRITIS.

TUHAN MEMBERKATI
30 – 03 – 2020

Post a comment

0 Comments