Nikodemus Niko : Sejarah Suku Dayak Jangkang

Suku Dayak Jangkang, salah satu suku dayak yang mendiami wilayah kecamatan Balai Sebut Kabupaten Sanggau provinsi Kalimantan Barat. Umumnya bermukim di bagian utara kabupaten Sanggau. Tepatnya di antara dua sungai besar, yaitu sungai Sekayam dan sungai Mengkiang, juga mendiami pesisir beberapa sungai kecil, seperti sungai Jangkang yang hanya selebar 1,5 meter. Namun, sungai ini adalah sumber mata air dari gunung Bengkawan, sehingga tidak pernah kering.

Dahulu, suku Dayak Jangkang sangat ditakuti oleh suku-suku dayak lain yang berada di kabupaten Sanggau, karena mereka terkenal dengan sebutan pengayau ulung. Daerah pengayauan mereka sangat jauh, hingga ke wilayah Sosok, Batang Tarang bahkan lebih jauh lagi sampai ke wilayah kabupaten Landak.

Suku Dayak Jangkang

Pada masa itu, banyak raja-raja (pemimpin suku) pada masa itu berkuasa di kabupaten Sanggau, salah satunya adalah seorang tokoh dari keturunan Dayak Jangkang, bernama Macan Luar atau Macan Ke’ Gila, yang sangat sakti, sangat ditakuti oleh setiap orang. Pada masa kepemimpinannya Ia menaklukkan Kerajaan Tayan dan Sekadau. Karena kehebatan si Macan Luar inilah, Kerajaan Tayan memberi gelar kepada Macan Luar, yaitu gelar Macan Muara Tayan Sengkuang Tajur. Suku Dayak Jangkang ikut berperan serta mengukir sejarah dayak, pada peristiwa Pertemuan Perdamaian Perang antar suku yang dilaksanakan di Tumbang Anoi, Kalimantan Tengah pada tahun 1894.

Lima tokoh suku Dayak Jangkang, yaitu:

1. Macan Natos (Ke’ Engkudu’) dari Empiang

2. Macan Luar (Ke’ Gila) dari Kobang

3. Macan Talot dari Sekantot

4. Macan Mure dari Tebuas/Ketori

5. Macan Gaing dari Terati.

Kelima tokoh ini membuat semacam kesepakatan dengan seluruh anggota masyarakat suku Dayak Jangkang untuk menghentikan praktek pengayauan.

Pada masa lalu suku Dayak Jangkang memiliki kedaulatan wilayah adat yang permanen yang terbagi dalam 7 wilayah ketemenggungan, satu wilayah pateh, dan satu wilayah mangku.

Wilayah Ketemenggungan:

– Jangkang Kopa (Henua Kopa) yang meliputi sebelas kampung yang berpusat di Empiang.

– Jangkang Nsanong yang meliputi tujuh kampung yang berpusat di Terati.

– Jangkang Engkarong yang meliputi sebelas kampung yang berpusat di Sekantot.

– Jangkang Ngkatat yang meliputi tujuh kampung yang berpusat di Ndoya.

– Jangkang Junggur Tanjung yang meliputi enam kampung yang berpusat di Mpurang.

– Jangkang Seguna/Muko’ yang meliputi lima kampung yang berpusat di Seguna.

– Jangkang Kanan yang meliputi tujuh kampung yang berpusat di Tumbuk.

Wilayah Pateh:

berpusat di Semirau. Wilayah kepemimpinan seorang pateh di bawah temenggung. Pateh yang pertama adalah Pateh Logau yang waktu itu memiliki wilayah yang meliputi sembilan kampung, yaitu Kampung Semirau, Ensibau, Sekampet, Jambu, Semukau, Sentowa, Ketori, Tebuas, dan Sabang. Wilayah mangku berpusat di Kobang. Wilayahnya meliputi enam kampung, yaitu Kampung Kobang, Jangkang Benua, Penyu/Landau, Parus, Sebao, Tanggung, dan Engkolai.

Suku Dayak Jangkang berbicara dalam bahasa Dayak Jangkang, yang menurut mereka, bahwa bahasa yang dipakai mereka masih termasuk dalam dialek Bokidoh. 

Bahasa Dayak Jangkang, terdiri dari 4 dialek:

– Jangkang Engkarong

– Jangkang Benua

– Jangkang Kopa (Henua Kopa)

– Jangkang Junggur Tanjung

Bahasa Dayak Jangkang yang terdiri dari 4 dialek ini pada dasarnya hampir tidak ada perbedaan, hanya saja terjadi perbedaan pada intonasi atau berbeda pada beberapa kata saja. Perbedaan hanya terlihat pada dialek Dayak Engkarong yang menyuarakan bunyi konsonan “r” dalam bentuk suara “Ä”, mirip konsonan “r” dalam bahasa Inggris, dan juga bunyi vokal “o”, juga terdengar seperti vokal “a”.

Sedangkan pada suku Dayak Jangkang, terdapat sebutan berdasarkan wilayah pemukiman, tetapi bukan sub klan maupun sub suku:

– Jangkang Tojo (ujung)

– Jangkang Soju (hulu)

– Jangkang Soba (hilir)

Asal usul suku Dayak Jangkang konon berasal dari Tembawang Tampun Juah/ Rungkap tuba, yang berada di kecamatan Balai Karangan kabupaten Sanggau. Dahulu suku Dayak Jangkang adalah pemburu ulung, selalu mencari tempat baru untuk wilayah perburuan. Mereka kemudian mencari wilayah perburuan baru, dan dalam perjalanan mereka sampai di Tembawang Tayu yang berada di kaki gunung Begkawan yang sekarang menjadi kecamatan Jangkang kabupaten Sanggau. Sebagian dari mereka memilih tempat ini untuk dijadikan wilayah pemukiman baru, sedangkan sebagian lain memilih untuk mencari daerah lain menuju suatu tempat bernama Kobang, tidak lama di tempat ini mereka melanjutkan perjalanan ke suatu tempat bernama Songokng, tidak lama juga di tempat ini, mereka pun pindah ke suatu tempat yang sekarang menjadi kampong Jangkang Benua.

Sedangkan kelompok yang tadinya bertahan di Tembawang Tayu memilih pergi mencari tempat lain untuk berladang sehingga menyebarlah mereka dan menemukan tempat yang diberi nama Jangkang dan Ketori. Awalnya mereka tinggal melaman (hidup di pondok ladang) namun lama kelamaan masyarakat mereka semakin banyak dan akhirnya menjadi sebuah perkampungan dan semakin padat. Dari kampung ini beberapa kelompok menyebar ke berbagai daerah di kecamatan Jangkang, kecamatan Mukok dan yang lain di kecamatan Bonti dan kecamatan Kapuas, seluruhnya berada di kabupaten Sanggau. Sedangkan nama Jangkang mereka ambil dari nama sungai yang melintas melalui perkampungan mereka saat ini.

Suku Dayak Jangkang saat ini mayoritas adalah pemeluk agama Kristen Katolik, sedangkan sebagian kecil lainnya memeluk agama Kristen Protestan.

Mata pencaharian suku Dayak Jangkang, adalah pada pertanian berladang, tetapi mereka juga memanfaatkan hutan untuk memenuhi beberapa kebutuhan hidup, seperti berburu dan mengumpulkan hasil dari hutan. Menangkap ikan juga mereka tekuni pada sungai-sungai yang melintas dekat wilayah perkampungan mereka. Saat ini tidak sedikit juga dari mereka yang berhasil pada sektor pemerintahan maupun sektor swasta, serta menjadi guru dan pedagang.

sumber:

– kebudayaan-dayak.org

– indonesia.go.id

– wikipedia

– dan sumber lain

Post a comment

0 Comments