Bouncing Heart Explosion

Menu Bawah

Translate

Nikodemus Niko : Sejarah Pudagi Silukua' Rangka Kolik

Sanggau Informasi
14/03/2020, 19:48 WIB Last Updated 2020-07-22T14:21:38Z

PUDAGI Silukua’ Rangka Kolik diperkirakan sudah berumur 3I5an tahun dan ditemukan sekitar abad ke XVII oleh Lunteh Babei Gi’. Menurut cerita turun-temurun dari para orang tua penemuan PUDAGI ini dikisahkan sebagai berikut:





Pada suatu hari di kampong Kalimantat Lunteh Babel Gi’ memasang Iju Tamput (bubu besar) di sungai Sekayam untuk mencari ikan guna menghidupi keluarganya. Pada pagi berikutnya Lunteh Babel Gi’ hendak melihat bubunya di sungai Sekayam mungkin ada ikan yang masuk kedalam bubu, tetapi apa yang ditemukan ternyata di depan bubu tersangkut dan melintang rangka kayu, oleh Lunteh babei Gi’ kayu tersebut dibuang ke samping karena menghalangi ikan untuk masuk ke dalam bubu. Pada pagi berikutnya Lunteh Babel Gi’ hendak melihat bubunya mungkin ada ikan yang masuk ke dalam bubu, tetapi hal yang sama terjadi lagi, rangka kayu yang kemarin dibuang kembali nyangkut dan melintang di depan bubu, kemudian rangka kayu tersebut dibuang lagi ke hulu sungai dengan harapan tidak mengganggu ikan untuk masuk ke dalam bubu. Pada pagi berikutnya hal yang sama terjadi lagi sehingga rangka kayu tersebut kemudian diangkat dan dibuang ke darat dengan harapan tidak mungkin nyangkut lagi di depan bubu.





Pada suatu malam Lunteh Babel Gi bermimpi didatangi seseorang yang menyebut namanya Silukua’ Rangka Kolik dan berpesan modo’ nontu mono’ rangka koyuh di’ ngampea bobo’ iju. Rangka koyuh no tao’ nya’ bunazar buniat, butoit, bucinta budoa, sakeat ngaribesea’. Yang artinya rangka kayu yang sering nyangkut di depan bubu supaya diangkat dan disimpan serta dipelihara baik-baik dan bisa digunakan untuk berniat, berharap dalam kesusahan, berdoa memohon keselamatan dan rejeki, serta untuk mengatasi sampar penyakit (tolak bala) yang melanda suatu kampong. Sepeti itulah bunyi pesan yang di sampaikan oleh Babel Silukua’ Rangka Kolik kepada Lunteh Babel Gi’ didalam mimpinya.





Pada keesokan harinya Lunteh Babel Gi’ langsung ke sungai Sekayam tempat di mana bubunya dipasang. Ia terkejut, rangka kayu yang dibuang ke darat sehari sebelumnya ternyata masih nyangkut di depan bubunya tersebut. Kemudian rangka kayu tersebut diangkat selanjutnya disimpan dan diletakan di tempat yang sudah disediakan cukup dengan ritual adat dan peralatan yang lengkap sesuai dengan pesan dalam mimpi Lunteh Babel Gi’. Tempat untuk menyimpan dan bertahtanya rangka kayu yang kemudian disebut PUDAGI Silukua’ Rangka Kolik adalah Panguriu disitu juga ditanami daun sabang dan bunga. Panguriu tersebut persis berada di pinggir sungai Sekayam di hilir kampong Kalimantat.





Demikianlah cerita sejarah PUDAGI Silukua’ Rangka Kolik secara turun temurun dari orang orang tua dahulu. Dari Lunteh Babei Gi’ sampai sekarang sudah ada sembilan generasi sebagai penerus dan pewaris dari PUDAGI Silukua’ Rangka Kolik.





Sumber: Antonius Irwan (Oma Feli) – Ahli Waris Pudagi Silukua’ Rangka Kolik





Diposkan oleh: Nikodemus Niko


Komentar

Tampilkan

Info lainnya




Terkini

Terupdate

Pelantikan pengurus PGI Kabupaten Sanggau

Sanggau, Jumat 25 September di GKNI Antiokhia Sanggau jalan Jendral Sudirman No. 16 Sanggau. Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) Kab...

 
Sanggau Informasi
Public group · 305 members
Join Group
Group Jual Beli ini web kita www.sanggauinformasi.com