Kementerian agama akan rombak 155 buku pendidikan agama Islam di semua sekolah.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Kamarudin Amin, mengatakan bahwa pergantian buku agama Islam sebanyak 155 buku itu untuk menangkal paham Khilafah dan intoleran di Indonesia. Semua buku agama Islam akan menjelaskan bahwa paham Khilafah sudah tidak relevan lagi, sudah tidak kontekstual. Senin, 11 November 2019.

Majalah Tempo bagian Angka. Halaman 20.

Hasil riset sejumlah lembaga menunjukkan paham Khilafah dan intoleransi tumbuh subur di sekolah. Berikut hasil survei beberapa lembaga:

  1. Survei Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat Universitas Islam Negeri Syarif Hidayahtullah Jakarta. 48,95% responden berpendapat bahwa pendidikan agama mempengaruhi mereka agar tidak bergaul dengan pemeluk agama lain. 58,5% responden memilih pandangan keagamaan radikal. Ini adalah survey terhadap 1.522 siswa, 337 mahasiswa, dan 264 guru di 34 provinsi pada tahun 2017.
  2. Survey Setara Institute. 3% siswa tidak bersedia berteman dengan yang berbeda agama. 4,5% siswa menganggap orang yang berbeda cara beribadahnya adalah kafir. 0.7 % siswa tidak akan menolong teman yang berbeda agama ketika tertimpa musibah. 1 orang mendukung terorisme. 3 orang siswa membiarkan terorisme. 5 siswa mendukung ISIS. 85 siswa mendukung tegaknya Khllafah di Indonesia. Ini adalah hasik survey di 171 sekolah menengah atas atau SMA di DKI Jakarta dan Bandung pada tahun 2016.
  3. Survey Wahid Institute tahun 2016. 60% aktivis agama di sekolah yang bergabung dalam rohani Islam bersedia melakukan jihad ke Suriah. 10% memyatakan bahwa serangan teroris di jalan M.H. Thamrin, Jakarta, pada awal 2016 adalah perbuatan jihad atau perjuangan membela Islam. 6% mendukung kelompok negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS.
  4. Survey Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat Universitas Islam Negeri Syarif Hidayahtullah. 5,95% guru memiliki opini yang sangat radikal secara eksplisit. 2.58% memiliki opini yang sangat radikal secara implisit. 4,56% guru bersedia melakukan aksi yang sangat intoleran. 33,21% guru bersedia melakukan tindakan intoleran. Survey terhadap 2.237 guru muslim pada tahun 2018.

Sumber Majalah Tempo periode 18-24 November 2019. Halaman 20.

Post a comment

0 Comments