Yanto Laung : Bisnis alternatif di tengah krisis

Tebang Benua, Karet, bakwan maupun getah, sebagai penyangga utama ekonomi rumah tangga mayoritas masyarakat Dayak di kecamatan Tayan, mengalami stagnasi harga selama beberapa tahun terakhir ini, bahkan cendrung menurun dalam beberapa bulan terakhir ini. Harga per tanggal 28 September 2019 di kios desa Tebang Benua adalah Rp. 5.700,-/kg. Bila dibandingkan komoditi industri, kita mengalami inflasi lokal yang sangat tinggi. Bandingkan untuk membeli 1 liter bensin, kita butuh 1,4 kg karet. 1 cangkir kopi di warung kita harus jual 0,96 kg karet. Bahkan bila dibandingkan dengan komodi lokal lain, seperti beras sebagai kebutuhan pokok tingkat pertama, untuk membeli 1 kg beras membutuhkan 2,1 kg karet.

Fakta di atas mencemaskan dan mengancam asa sebagaian besar rumah tangga yang menjadikan karet sebagai satu-satunya mata pencaharian mereka, karena masa jaya karet era tahun 2000-an awal cuma merupakan golden memories yang sulit terulang kembali mengingat semakin merosotnya penggunaan karet alam dunia dibandingkan dengan karet sintetetis, eksport karet Indonesia kalah bersaing dengan Malaysia dan Vietnam di pasar global, tidak adanya kebijakkan industri hilir dalam tata kelola industri karet kita. Bahkan kehadiran pabrik karet NKP di Padu, Beginjan tetap tidak banyak menolong kenaikkan harga karet di kecamatan Tayan Hilir.

Maka sudah saatnya kita mencari alternatif lain untuk membangun ekonomi masyarakat kita yang menggantungkan hidup mereka pada karet. Masalah yang ada bukan untuk diratapi, apalagi harus mencaci maki dan mencari kambing hitam pihak lain. Kita harus membangun semangat, pikiran positif dan daya kreativitas untuk mengatasi masalah ini.

Fenomena menarik dan inspiratif yang dapat menjadi pintu masuk bagi kita untuk mencari alternatif baru adalah pasar buah-buah di Mungguk Bungkang, Desa Tebang Benua serta pasar rebung di Benuah, perbatasan Kab. Sanggau dan Kab. Kubu Raya. Pasar buah-buah di Mungguk Bungkang beroperasi secara musiman, paling tidak dalam satu tahun ada dua kali dengan totalitas operasi 4 bulan dalam setahun. Uniknya buah-buah yang dijual di Mungguk Bungkang paling tinggi hanya 10% menjual buah-buah asli dari Mungguk Bungkang, tetapi 90% adalah buah-buah yang berasal dari wilayah lain bahkan ada yang dari pontianak. Demikian juga pasar rebung di Benuah yang beroperasi 12 bulan dalam setahun, rebungnya berasal dari berbagai daerah. Dua pasar ikonik ini bukan hanya menguntungkan pedagangnya saja, tetapi juga masyarakat lain yang mencari dan menjual komoditi tersebut ke pedagang. Jadi cukup banyak yang terlibat dan merasakan dampak ekonomi dari kehadiran dua pasar ikonik ini, bahkan bisa ditambahkan lagi kalau di pasar itu ada yang menjual warung kopi atau sayur-sayuran lain, maka rententan rantai ekonominya menjadi panjang.

Saya sempat membayangkan lahir pasar baru di antara Simpang Atel dan Simpang K, dekat kompleks calon rumah betang kita, karena tempatnya strategis yaitu jalan poros trans kalimantan, ada dua perusahaan besar dengan karyawan yang banyak di Lais dan Semenduk. Seandainya ada pasar buah-buahan lokal non musiman di sana, seperti pisang, pepaya, nenas (Sejotang adalah produsen nenas di kec. Tayan), sayur mayur kampung (yang trend permintaan pasarnya semakin tinggi karena dianggap alami dan khas), dan lain-lain, maka mungkin bisa menjadi pasar ikonik baru di kecamatan Tayan serta punya dampak ekonomis bagi masyarakat sekitar.

Saya sengaja untuk saat ini mengambil contoh bisnis alternatif adalah usaha jual beli produk lokal, dan bukan bekerja di perusahaan yang saat ini jumlahnya cukup banyak di Tayan, atau perkebunan sawit yang hasilnya bisa menjadikan seorang jutawan baru, atau bidang peternakkan. Mungkin di lain kesempatan, bidang-bidang ini akan dibahas secara khusus. Usaha jual beli produk lokal ini menarik untuk dikembangkan saat ini, karena beberapa pertimbangan yang saya pikir mempunyai dampak positif jangka panjang:
Pertama, barang yang dijual adalah produk lokal, maka hal ini akan memberikan dan menciptakan nilai tambah ekonomi atas sumber daya alam yang persediaannya cukup banyak di hutan. Contohnya rebung bisa tumbuh di mana-mana.
Kedua, tindakan menjual dan membeli adalah katalisator dalam menumbuhkan jiwa entrepeneurship dari masyarakat kita yang selama ini sejauh pengamatan saya adalah sebuah masyarakat yang konsumtif.
Ketiga, menciptakan pasar baru untuk menyalurkan hasil ladang dan kebun yang kadang tidak tahu harus dijual kemana, serta merangsang masyarakat untuk memamfaatkan tanahnya semaksimal mungkin untuk menanam komoditi yang bernilai jual.

Nara sumber Victorianus Yanto Laung

0 Response to "Yanto Laung : Bisnis alternatif di tengah krisis"

Post a comment

Share

Kategori Artikel

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel